Cara Menulis Artikel Google Friendly 728x90

Bersentuhan dengan lawan jenis, Batalkah Wudhu Anda?

wudhu

Banyak dari teman-teman saya yang kemudian menegur saya supaya saya mengulangi wudhu saya. Bukan satu kali atau dua kali saja. Tetapi beberapa kali dalam berbagai kesempatan. “Emang saya salah apa? Kok tiba-tiba disuruh wudhu lagi?” “Bersentuhan dengan perempuan” Teman saya bilang.

Awalnya, saya abaikan saran teman saya itu. Toh saya menganggap itu hanyalah sebuah guyonan dari teman saya. Lagian, itupun bukan sesuatu yang saya sengaja. Jadi, apa salahnya?

Memang saya banyak mendengar tentang hal ini. Yang katanya wudhu akan menjadi batal ketika ada sentuhan atau minimal gesekan terhadap lawan jenis. Tetapi saya tetap mengabaikan hal ini. Karena saya belum pernah mendapatkan “wejangan” yang kongkrit mengenai hal ini. Mengenai batalnya wudhu hanya karena bersentuhan dengan wanita. Apalagi sentuhan itu bukanlah sesuatu yang disengaja. Kalaupun memang iya, ada satu pertanyaan dari saya. Bagaimana dengan mereka Jamaah haji yang otomatis akan saling bersentuhan satu sama yang lainnya, pria maupun wanita ketika mereka melaksanaakan ibadah thowaf? Apakah mereka wajib memperbaharui wudhu mereka sampai puluhan kali atau bahkan ribuan kali? Bisa dibayangkan pula berapa besar tingkat stress mereka hanya karena mereka harus terus menerus memperbaharui wudhu mereka?

Ada Beberapa Pendapat

Akhirnya dengan pertanyaan diatas, malah saya tergerak untuk mencari sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana sebenarnya hukum ini? Dan bagaimana Islam menuntaskan masalah ini?

Mengenai masalah ini, memang beberapa ulama fiqih berseberangan pendapat mengenai ini. Merujuk pada firman Allah dalam surah Al-Maidah: ayat 6 yang berbunyi “Au Laa Mastumun Nisa” yang berarti “menyentuh wanita”

bersentuhan dengan lawan jenis

Menanggapi ayat diatas, beberapa ahli fiqih berbeda mengenai tafsirannya. Ada yang berpendapat bahwa akan batal ketika bersentuhan dengan lawan jenis. Baik itu istrinya, anak perempuannya, atau pun orang lain. Ada pula yang mengatakan bahwa sentuhan itu tidaklah membuat wudhu menjadi batal, selama sentuhan itu tidak diikuti oleh nafsu. Untuk lebih jelasnya, mari kita tilik pendapat itu satu per satu.

Imam Syafi’i. Berpendapat bahwa wudhu akan menjadi batal ketika terjadi sentuhan antara lelaki dan perempuan, dengan sengaja ataupun tidak, dengan syahwat ataupun tidak. kecuali dengan mahromnya (yang tidak boleh menikah dengannya).

Imam Malik. Berpendapat bahwa selama sentuhan itu tidak diikuti oleh syahwat atau nafsu, maka tidaklah membuat wudhu menjadi batal.

Abu Hanifah. Yang mungkin saya anut kali ini. Berpendapat bahwa persentuhan antara lelaki dan perempuan tidak membatalkan wudhu. Entah itu didorong dengan syahwat ataupun tidak. Ia baru akan batal ketika diikuti oleh jima’ (bersenggama atau bersetubuh).

Sebagai tambahan, bahwa Aisyah R.A meriwayatkan melalui hadits: “Sesungguhnya Rasulullah SAW (setelah berwudhu) beliau menciumi sebagian istrinya, lalu beliau pergi (ke masjid) untuk sholat tanpa mengulangi wudhunya” (H.R Abu daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i)

heheh… jadi mau pilih yang mana? (kayak penjual emas aja pake tawar-tawar) 😀

mungkin karena mahdzab Imam Syafi’i lebih banyak dipakai orang indonesia ya… jadinya sebagian besar orang indonesia berpendapat bahwa kalau ada sentuhan antara laki-laki dan perempuan, harus mengulangi wudhunya lagi.

Tetapi ketika mereka berangkat haji, mahdzab akan beralih ke Abu Hanifah supaya pikiran mereka tidak tersiksa akan keharusan memperbaharui wudhu mereka ketika bersentuhan dengan lawan jenis… 🙂
Wallahu A’lam Bisshowab…

Semoga Bermanfaat…

Dapet Duit Dari Twitter 728x90

Periksa Juga

terimakasih guruku

Terimakasih Guruku

Hari ini, tanggal 25 November adalah hari dimana kita akan mengingat semua memori dan kenangan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *