Thursday , 16 August 2018
Cara Menulis Artikel Google Friendly 728x90

Ketika Hari Raya Jatuh Di Hari Jum’at

idul fitri di hari jumat

Majelis tarjih Muhammadiyah bagian da’wah telah memutuskan bahwa hari Raya Idul Fitri 1436 H jatuh pada hari Jum’at, 17 Juli 2015. Dan kemungkinan pemerintah akan menjatuhkan hari raya Idul Fitri di hari yang sama. Maka di bulan Ramadhan kali ini memiliki umur 29 hari. Dan ini sangat mungkin terjadi menurut ilmu perhitungan bulan. Di zaman Rosulullah pun beberapa kali Ramadahn memiliki umur 29 hari.

Nah, bagaimana ketika Hari Raya Idul Fitri ini bertepatan pada hari jum’at? Yang sebelumnya kita tahu bahwa di hari itu adalah dilaksanakannya jama’ah sholat jum’at dengan jumlah jamaah yang banyak. Pun sama halnya dengan Sholat jamaah ied.

Maka ada aturan yang harus kita ketahui:

1. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah bersabda:

قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ
“Pada hari ini telah berkumpul dua hari raya pada kalian. Maka barangsiapa yang berkehendak (untuk tidak menghadiri shalat Jum’at), SHALAT IED ITU TELAH MENCUKUPINYA dari shalat Jum’at. Namun, kami (tetap) melaksanakan shalat Jum’at”
(HR. Abu Daud no.1073, Ibnu Majah no.1311, al-Hakim 1/288, al-Baihaqi no.6288, sebagian ulama seperti Imam Ahmad dan ad-Daruquthni melemahkan hadits ini)

2. Persaksian sahabat Zaid bin Arqam radhiallahu’anhu, dimana sahabat Muawiyah radhiallahu’anhu pernah bertanya kepada Zaid:

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا؟ قَالَ نَعَمْ صَلَّى الْعِيدَ أَوَّلَ النَّهَارِ، ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ فَقَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُجَمِّعَ فَلْيُجَمِّعْ
“Apakah engkau pernah menyaksikan dua Hari Raya (Ied dan Jum’at) berkumpul dalam satu hari, di masa Rasulullah?
Zaid menjawab: “Ya, beliau melaksanakan shalat Ied pada awal siang, kemudian MEMBERI KERINGANAN untuk shalat Jum’at. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang ingin shalat Jum’at, hendaknya dia laksanakan”
[HR. Ahmad no.19318, Abu Dawud no.1070, an-Nasaa-i no.1591, Ibnu Mâjah no.1310, ad-Darimi no.1654, hadits ini bisa diterima (jayyid/sanadnya bagus) karena banyaknya riwayat pendukung dari hadits lain yang semakna
(Al-Majmu’ Imam Nawawi 4/492)]


3. ‘Utsman bin Affan radhiallahu’anhu pernah berkhutbah di Hari Raya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ العَوَالِي فَلْيَنْتَظِرْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya pada hari ini telah berkumpul dua Hari Raya pada kalian. Maka siapa saja di antara penduduk ‘awali (masyarakat yang datang dari jauh/pelosok) yang ingin menunggu shalat Jum’at, silakan menunggu. Akan tetapi, siapa saja yang ingin pulang, telah kuizinkan untuknya”
(HR. al-Bukhari no.5571, Malik 2/87 no.471)


4. Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu berkata:

اجْتَمَعَ عِيدَانِ فِي يَوْمٍ، فَقَالَ مَنْ أَرَادَ أَنْ يُجَمِّعَ فَلْيُجَمِّعْ، وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ قَالَ سُفْيَانُيَعْنِي يَجْلِسُ فِي بَيْتِهِ
“Telah berkumpul dua Hari Raya dalam satu hari. Barangsiapa yang hendak mengumpulkannya (shalat Ied dan shalat Jum’at), silakan dia kerjakan. Dan siapa yang ingin duduk, silakan duduk”.

Sufyan ats-Tsauri berkata: “Yaitu duduk di rumahnya (tidak ikut shalat Jum’at)”
(HR. Abdurrazzaq no.5731)


5. Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhu, Rasulullah bersabda dalam khutbah Ied:

مَنْ شَاءَ أَنْ يَأْتِيَ الْجُمُعَةَ فَلْيَأْتِهَا وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتَخَلَّفَ فَلْيَتَخَلَّفْ
“Siapa yang ingin menghadiri shalat jum’at, maka hadirilah. Dan siapa yang tidak ingin, baginya boleh tidak hadir”
(HR. Ibnu Majah no.1312)
=====

KESIMPULAN

  1. Pendapat yang terkuat dalam hal ini, siapa saja yang telah mengerjakan shalat Ied maka GUGURLAH KEWAJIBAN shalat Jum’at baginya.
  2. Bagi Imam dan Khatib, mereka tetap menyelenggarakan shalat Jum’at, untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin ikut shalat Jum’at (HR. Muslim no.878).
  3. Orang yang telah mengerjakan shalat Ied tetap boleh menghadiri shalat Jum’at, dan inilah yang AFDHAL.
  4. Dan bagi orang yang mengambil keringanan untuk tidak menghadiri shalat jumat, baginya TETAP WAJIB mengerjakan shalat zhuhur.

(Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah no.2140, no.2358, no.21160, Majmu Fatawa Ibnu Baz 12/341, 30/261)

-Wallahua’lam-

Dapet Duit Dari Twitter 728x90

Periksa Juga

terimakasih guruku

Terimakasih Guruku

Hari ini, tanggal 25 November adalah hari dimana kita akan mengingat semua memori dan kenangan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *