Saturday , 16 December 2017

Idul Adha, Bukti Kepatuhan Seorang Hamba

لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Hari ini, Umat Islam di seluruh dunia sedang berbahagia dengan datangnya hari Raya ‘Idul Adha yang jatuh tepat pada hari ini. Gema takbir yang terus terdengar dikumandangkan sejak kemarin menandakan bahwa hari ini adalah hari kemenangan umat Islam.

Pada hari raya ini, seperti biasa akan diingatkan tentang kisah keteladanan Nabi Ibrahim dan putranya Ismail yang luar biasa. Dimana keduanya menunjukkan sikapnya atas ketundukannya dan ketaatanyya secara total pada perintah Allah SWT.

Alkisah, bermula dari Kisah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar yang sudah lama menikah namun belum dikarunai seorang anak pun. Nabi Ibrahim terus berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kepercayaan untuk menjadi seorang Ayah. Doa dan usahanya akhirnya membuahkan hasil, dan lahirlah seorang bayi laki-laki tampan bernama Isma’il. Menurut sejarah, Isma’il lahir ketika Nabi Ibrahim berumur 86 tahun.

Namun, kebahagiaan keluarga tersebut tidak berlangsung lama. datanglah suatu mimpi yang sangat mengagetkan. Dalam mimpinya, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah untuk menyembelih anaknya. Pada awalnya, dia tidak yakin terhadap perintah ini. Namun, saat mengalami mimpi tersebut sampai 3 kali, dia baru betul-betul yakin bahwa ini adalah perintah dari Allah SWT. Kemudian Nabi Ibrahim menanyakan hal ini kepada Isma’il:

“Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” (QS Ash-Shoffat [37]:102)

Kemudian, Ismail menjawab:

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS Ash-Shoffat [37]:102)

Sungguh luar biasa jawaban yang diberikan oleh Isma’il. Demikian juga dengan Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah dan berhasil membunuh rasa cinta kepada anak satu-satunya yang telah ditunggu berpuluh-puluh tahun. Pun Siti Hajar, seorang ibu yang ikhlas terhadap keputusan ini. Subhanalloh.

Singkatnya, Bapak dan anak tersebut menuju suatu tempat yang ditentukan. Lalu ketika Nabi Ibrahim sudah membaringkan Isma’il dan siap menyembelihnya, maka seketika itu pula Allah SWT langsung memanggil Nabi Ibrahim dan langsung mengganti Isma’il dengan seekor sembelihan yang besar:

“Lalu Kami panggil dia, Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu (Isma’il) dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Selamat sejahtera bagi Ibrahim.” (QS. Ash-Shoffat [37]:104-109)

Dari peristiwa tersebut, sungguh nyata ujian keimanan yang berhasil dilalui oleh Nabi Ibrahim.

Dari kisah tersebut, bukan berarti kita diperintahkan untuk mengorbankan anak kita ya… Allah SWT pun sudah mengetahui bahwa kita tidak akan mampu untuk itu. Sebagai gantinya, diperintahkan untuk kita menyisihkan sebagian harta kita untuk berkurban sabagai bukti kepatuhan kita kepada tuhan kita, Allah SWT. Sebagaimana yang telah Nabi Ibrahim contohkan kepada kita.

Periksa Juga

Era ‘Satu Generasi’ Bulu Tangkis Hebat Akan Selesai

ibagusm.web.id — Olimpiade Rio de Janeiro 2016 jadi salah satu puncak pertarungan sebuah generasi di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *