Saturday , 16 December 2017

Sepucuk Surat Untuk Rival Terberatnya Juga Teman Terbaiknya

Lin dan Lee chong weiLaga semifinal Olimpiade Rio 2016 di cabang badminton tunggal putra antara Lee Chong Wei (Malaysia) vs  Lin Dan (China) yang berakhir dengan kemenangan Lee menyisakan sejumlah cerita. Dan hasil itu pula membuat Lee berhasil menghapus penasaran setelah kalah di Final Olimpiade Beijing 2008 dan London 2012 dari Lin.

Kemungkinan besar duel kedua pemain terhebat di eranya itu adalah yang terakhir kali di Olimpiade ini. Usia yang sudah tidak muda lagi akan membuat mereka hampir pasti tidak bisa bersaing dengan pemain yang lebih muda di Olimpiade Tokyo 2020 nanti.

Setelah Lin Dan kalah di pertandingan tersebut, beredar surat dari Lin Dan untuk Lee Chong Wei di dunia maya. Keduanya memang dikenal sebagai rival masing-masing ketika di dalam lapangan. Tapi ketika di luar lapangan, Keduanya memiliki hubungan yang baik sebagai teman baik. Berikut isi surat Lin Dan untuk Lee Chong Wei:


Buat kakakku, Chong Wei:

Saat aku melihatmu melempar raket kemarin dan meloncat ke udara dengan teriakan kemenangan, sejujurnya aku sangat senang.

Kita berdua, sudah saling kenal selama 16 tahun, dulu saat kita masih muda dan bersemangat. Waktu itu, masih ada Taufik, Peter, kita berdua belum luar biasa. Aku menang di pertandingan pertama kita. Tapi tak ada diantara kita yang menyangka, setelah bertahun-tahun, aku memainkan begitu banyak pertandingan melawanmu.

Kita menang dan kalah. Tentu saja, ijinkan aku dengan sedikit rasa bangga menyebut aku lebih banyak menang. Tapi aku tak mau membicarakan lebih banyak lagi soal hasil itu. Karena hasil itu bukanlah ukuran lagi buat kita.

Beberapa orang menjulukiku Super Dan. Mereka ada yang merasa sedih untukmu. Karena keberuntunganmu terlihat lebih sedikit dariku. Di setiap pertandingan besar, aku menang darimu.

Aku tetap akan berterimakasih padamu. Selain semua kemenangan dan gelar juara, selalu ada hubungan yang hangat antara Lin dan Lee. Kita bisa seperti Ronaldo dan Messi, Larry Bird dan Magic Johnson, Federer dan Nadal, abadi karena eksistensi satu sama lain.

Karena kamu, aku menjadi diriku yang terbaik seperti sekarang. Aku mendapatkan hampir seluruh gelar juara, tapi aku tak pernah puas dan kendor.

Aku bisa saja menyanyikan lagu “Rasanya Kesepian Menjadi yang Tak Terkalahkan”. Tapi kamu selalu ada, membuatku memeras keringat, menghadapiku di seberang net setiap aku melangkah ke final.

Kamu selalu mengejarku dan aku tak akan membiarkamu lewat begitu saja. Kamu berlatih, aku berlatih. Kamu tak menerima kekalahan, aku juga tak mau kendor.

Itulah yang terjadi. Kini kita telah menjadi pria yang lebih tua. Banyak pemain muda sudah muncul. Sesekali, aku akan mengirim pesan padamu dan kita akan membicarakan tentang mereka, para pemain muda.

Mereka akan mengalami masa sulit, dengan banyak kompetisi untuk menuju juara. Keadaannya tidak akan seperti sekarang, dimana hanya ada aku dan kamu. Sejujurnya, keadaan itu terasa sedikit sunyi.

Tapi setiap kali aku menghadapimu, aku selalu bisa mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik. Hanya kamu yang sepadan untuk menghadapi semua hasil latihan yang telah kujalani dengan waktu lama.

Aku mencapai Rio, Olimpiade keempatku. Saat di perempat final, aku harus mengeluarkan kemampuan ekstra untuk mengalahkan anak muda asal India. Saat aku hampir menyerah, aku teringat janjiku untuk menghadapimu di semifinal.

Pertandingan ke-37 kita sudah berlalu, sama seperti pertandingan pertama kita. Sejujurnya, ketika aku terpeleset dan kalah darimu, aku tidak menyesal.

Kamu adalah rival terbesarku dan aku rela kalah darimu, tanpa penyesalan. Ketika aku memelukmu, aku merasakan 10 tahun bersamamu bukan sesuatu yang nyata, tapi mimpi.

Aku akan membawa kostummmu pada calon anakku dan memberitahunya: “Ada seorang paman yang terkenal dengan nama Lee Chong Wei, rival terbesar ayahmu sekaligus teman terbaik”.

Bertemu denganmu di tahun-tahun terbaikku adalah keberuntungan buatku. Semoga berhasil di final.

Lin Dan

Namun harapan Lin untuk rivalnya itu tidak menemui kenyataan. Setelah Lee tumbang atas Chen Long yang merupakan Junior dari Lin Dan. Alhasil, Lee terpaksa menutup karirnya di Olimpiade terakhirnya ini dengan medali perak. Tanpa bisa meraih Medali emas di Olimpiade sepanjang karirnya.

Periksa Juga

Era ‘Satu Generasi’ Bulu Tangkis Hebat Akan Selesai

ibagusm.web.id — Olimpiade Rio de Janeiro 2016 jadi salah satu puncak pertarungan sebuah generasi di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *